Rabu, 10 Juli 2013


cerpen jaman SMA yang aku buat. hihi kalo dibaca lagi jadi senyum-senyum aku. entah darimana dapat ide buat bikin cerpen ini. hope you guys like it :)



Because we want to

Jatuh cinta. Ya jatuh cinta atau fallin in love. Dua kata tersebut sangatlah familiar ditelinga kita. Mulai dari tua, muda, laki-laki ataupun perempuan pastilah pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Semua perbedaan juga tampaknya bisa bersatu hanya karena dua kata tersebut. Tapi apakah yang membuat kalian bisa merasakan jatuh cinta pada seseorang? Karena dia pintar, cantik parasnya, atau dia memiliki pribadi yang baik dan juga lemah lembut? Ya aku tau kalian memiliki cerita sendiri mengapa kalian bisa jatuh cinta.
Tapi bagaimana dengan jatuh cinta pada seseorang karena dia memiliki wangi yang membuatmu tenang? Ya itu adalah alasanku jatuh cinta. Jatuh cinta pada seseorang. Seseorang yang selalu aku tunggu kehadirannya jika berada disekolah. Seseorang yang membuatku bisa tersenyum sendiri disudut kelas karena telah mencium wangi farfumnya yang sangat lembut. Seseorang yang selalu ada ditiap lamunanku. Seseorang yang selalu aku lihat saat dia sedang berolahraga. Melihat caranya berbicara, setiap gerak langkahnya, dan senyumnya adalah aktivitas yang paling aku senangi. Aku menyukai setiap hal yang ada pada dirinya terutama wanginya yang tidak berlebihan tapi sangat beraroma. Aku tau kalian pasti bingung. Tapi hanya inilah caraku menjelaskan bagaimana wangi tubuhnya.
Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa jatuh cinta padanya hanya karena wangi farfumnya. Aku juga bingung mengapa aku baru menyadari keberadaannya sekarang, setelah aku mengetahui wangi farfumnya tersebut. Ini merupakan hal yang jauh dari dugaanku. Jatuh cinta hanya karena wangi farfumnya sangat lembut. Well, rasanya jarang sekali kan alasan seperti ini?.
Kami berteman. Hanya saja kami tidak terlalu dekat, sebagaimana teman-temanku yang selalu bercanda atau makan dikantin bersama dengannya. Kami hanya bertegur sapa sekedarnya saja jika sedang berpapasan atau hanya karena dia belum mengerjakan tugas. Thats it. Tidak pernah terjadi percakapan yang berarti seperti 'kamu tinggal dimana?', “berapa saudaramu', atau 'kamu sudah punya pacar?'. Kami selalu bertemu setiap senin hingga sabtu dari jam tujuh hingga jam dua, cuma ya itu tadi kami tidak pernah terlibat percakapan. Mulut kami sama-sama terkunci.
Tapi semua kekakuan diantara kita perlahan mulai memudar saat peristiwa itu terjadi pada kami berdua. Peristiwa yang akan selalu aku ingat seumur hidupku. Peristiwa yang membuatku hampir mati karena tidak bisa bernafas.
# # #


Saat itu hari matahari bersinar sangat terik. Dan hal itu tentu saja membuat hawa panas yang luar biasa menyengat. Aku, seperti biasanya, menunggu jemputan dari kakakku, Ravi. Aku pun berdiri didepan gerbang sekolah. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang. Sudah satu jam aku menunggu Kak Ravi, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan datang. Biasanya dia tidak pernah terlambat untuk menjemputku. Dan benar saja saat aku menelponnya, Kak Ravi bilang bahwa motornya mogok dan harus dibawa kebengkel. Tentu saja aku kesal setengah mati, kalau tau tidak bisa menjemputku hari itu, kenapa gak bilang dari tadi sih? Kan jadinya aku bisa ikut temanku pulang.
“tiit” aku mendengar klakson dibunyikan. Dalam perasaan kesal aku memasang wajah kesalku pada sang pemilik motor tersebut. Tapi kontan saja wajaku berubah saat itu juga, karena si pemilik motor tersebut adalah Dia, Sinatra. Seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta hanya karena wangi farfumnya. Dia ternyata baru selesai ekskul basket. Dan walaupun sehabis olahraga seperti itu tapi, wangi farfumnya masih ada.
“belum pulang?”
“belum. Masih mau nyari angkot.” jawabku sekenanya
“angkot kan jam segini gak lewat sini, Ra.”
“masa sih. Kok kamu tau? Juragan angkot ya?” jawabku. Haduh Rasya. Garing tau. Tapi aku salah, justru dia tertawa. Dan tentu saja membuatku terperangah beberapa saat.
“rumah kamu emang dimana?”
“di jalan juanda.”
“yaudah yuk, aku anter. Lagian ini udah sore, taksi mana ada yang lewat sini kalo jam segini.
Dan aku pun bersedia diantar pulang olehnya. Pulang bersama denganya plus bisa menghirup wangi farfumnya sepanjang perjalanan. Aku bersyukur Kak Ravi gak jemput. It's my lucky day. Hoho
# # #



Sejak saat itulah aku mulia akrab dengannya. Kami mulai bertegur sapa saat sedang berpapasan dikelas. Dan tentu saja dengan wangi farfumnya yang selalu membuatku betah berada didepan kelas, hanya kerena menunggunya untuk masuk kelas. Tidak hanya bertegur sapa, hari demi hari kami mulai terlihat bersama. Dia sering menungguku sampai dijemput oleh Kak Ravi. Dan aku juga terkadang sengaja melihat dia latihan basket. Mungkin ini kedengaran aneh, tapi ya kalian benar aku telah jatuh cinta pada laki-laki ini. Aku bahkan tidak ingin melewatkan satu hari pun tanpa melihatnya. Satu hari tanpa melihat dan mencium farfumnya bisa membuat hariku bad mood seharian.
Perlahan aku mulai mengetahui kehidupannya dan aku pun tidak sungkan untuk berbagi cerita dengannya. Entah mengapa kita memiliki selera musik, film dan buku yang sama. Hal inilah yang selalu menjadi bahan obrolan yang tidak pernah berhenti untuk kami bahas. Dan ini juga menjadi nilai lebih yang ada pada dirinya. Hubungan yang hanya sebatas teman pun perlahan mulai berubah. Sedikit demi sedikit.

# # #

“Rasya. sampai hari ini aku masih penasaran dengan alasan mengapa kamu memilih aku.”
“Kamu yakin mau mengetahui alasannya, Nat?”
“kamu hampir membuatku gila, sayang.”
“aku jatuh cinta padamu bukan hanya karena kamu baik, pengertian atau pun bisa melindungi aku, tapi alasan yang paling besar adalah karena...”
“apa?”
Dan dengan perlahan aku menuturkan alasan tersebut.
“karena wangi farfummu, Sinatra.”
“benarkah?”
“ya aku suka sekali wangi farfummu. Lembut sekali.”
“terima kasih. Sayang.”
Lama sekali dia memandangi wajahku. Tatapan yang sangat dalam. Tatapan yang membuatku deg-degan setengah mati.
“sekarang giliranku. Apa yang membuatmu jatuh cinta juga padaku?”
Dia kembali diam. Setelah beberapa saat dia menjawab.
“aku bisa saja mengatakan bahwa kamu, cantik, manis, pengertian, baik hati atau yang sebagainya. Tapi yang terpenting untukku karena aku ingin mencintaimu. Coba bayangkan bila pengertian, baik, kekayaan atau yang lainya itu tiba-tiba hilang dari dalam diri seseorang yang kita cintai? Pasti selalu terucap 'sudah tidak ada kecocokan lagi'. Padahal bukan karena tidak cocok, melainkan karena rasa cinta itu hilang perlahan dengan hilangnya hal-hal yang membuatmu jatuh cinta pada seseorang tersebut.”
Aku pun meresapi setiap kata yang Dia ucapkan padaku. Dan perlahan aku mulai mengerti sekarang. Mencintai bukan karena siapa,mengapa,atau apa. Tapi mencinta itu karena kalian memang ingin mencintainya.
“iya, Nata. Aku akan mencintaimu, kerena aku memang ingin mencintaimu.
“terima kasih sayang. Tapi wangi farfumku tidak akan berubah Rasya. Selamat menghirup wangi farfumku, sayang.” kata Nata sambil memelukku, tepat saat tenggelamnya matahari difuk barat.
Kami pun saling memeluk harapan dan angan yang telah kami janjikan satu sama lain. Dan menatap jauh ke depan, meninggalkan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Jauh-jauh kebelakang and try to loving each other, because we want to.
“maybe its true I can live wihout you
maybe two its better than one.”
T.H.E. E.N.D