cerpen jaman SMA yang aku buat. hihi kalo dibaca lagi jadi senyum-senyum aku. entah darimana dapat ide buat bikin cerpen ini. hope you guys like it :)
Because we want to
Jatuh
cinta. Ya jatuh cinta atau fallin in love. Dua kata tersebut sangatlah familiar
ditelinga kita. Mulai dari tua, muda, laki-laki ataupun perempuan pastilah
pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Semua perbedaan juga tampaknya bisa
bersatu hanya karena dua kata tersebut. Tapi apakah yang membuat kalian bisa
merasakan jatuh cinta pada seseorang? Karena dia pintar, cantik parasnya, atau
dia memiliki pribadi yang baik dan juga lemah lembut? Ya aku tau kalian
memiliki cerita sendiri mengapa kalian bisa jatuh cinta.
Tapi
bagaimana dengan jatuh cinta pada seseorang karena dia memiliki wangi yang
membuatmu tenang? Ya itu adalah alasanku jatuh cinta. Jatuh cinta pada
seseorang. Seseorang yang selalu aku tunggu kehadirannya jika berada disekolah.
Seseorang yang membuatku bisa tersenyum sendiri disudut kelas karena telah
mencium wangi farfumnya yang sangat lembut. Seseorang yang selalu ada ditiap
lamunanku. Seseorang yang selalu aku lihat saat dia sedang berolahraga. Melihat
caranya berbicara, setiap gerak langkahnya, dan senyumnya adalah aktivitas yang
paling aku senangi. Aku menyukai setiap hal yang ada pada dirinya terutama
wanginya yang tidak berlebihan tapi sangat beraroma. Aku tau kalian pasti
bingung. Tapi hanya inilah caraku menjelaskan bagaimana wangi tubuhnya.
Aku juga
tidak mengerti mengapa aku bisa jatuh cinta padanya hanya karena wangi
farfumnya. Aku juga bingung mengapa aku baru menyadari keberadaannya sekarang,
setelah aku mengetahui wangi farfumnya tersebut. Ini merupakan hal yang jauh
dari dugaanku. Jatuh cinta hanya karena wangi farfumnya sangat lembut. Well,
rasanya jarang sekali kan alasan seperti ini?.
Kami
berteman. Hanya saja kami tidak terlalu dekat, sebagaimana teman-temanku yang
selalu bercanda atau makan dikantin bersama dengannya. Kami hanya bertegur sapa
sekedarnya saja jika sedang berpapasan atau hanya karena dia belum mengerjakan
tugas. Thats it. Tidak pernah terjadi percakapan yang berarti seperti 'kamu
tinggal dimana?', “berapa saudaramu', atau 'kamu sudah punya pacar?'. Kami
selalu bertemu setiap senin hingga sabtu dari jam tujuh hingga jam dua, cuma ya
itu tadi kami tidak pernah terlibat percakapan. Mulut kami sama-sama terkunci.
Tapi
semua kekakuan diantara kita perlahan mulai memudar saat peristiwa itu terjadi
pada kami berdua. Peristiwa yang akan selalu aku ingat seumur hidupku.
Peristiwa yang membuatku hampir mati karena tidak bisa bernafas.
# # #
Saat itu
hari matahari bersinar sangat terik. Dan hal itu tentu saja membuat hawa panas
yang luar biasa menyengat. Aku, seperti biasanya, menunggu jemputan dari
kakakku, Ravi. Aku pun berdiri didepan gerbang sekolah. Namun, yang ditunggu
tak kunjung datang. Sudah satu jam aku menunggu Kak Ravi, tapi tidak ada
tanda-tanda bahwa dia akan datang. Biasanya dia tidak pernah terlambat untuk
menjemputku. Dan benar saja saat aku menelponnya, Kak Ravi bilang bahwa
motornya mogok dan harus dibawa kebengkel. Tentu saja aku kesal setengah mati,
kalau tau tidak bisa menjemputku hari itu, kenapa gak bilang dari tadi sih? Kan
jadinya aku bisa ikut temanku pulang.
“tiit”
aku mendengar klakson dibunyikan. Dalam perasaan kesal aku memasang wajah
kesalku pada sang pemilik motor tersebut. Tapi kontan saja wajaku berubah saat
itu juga, karena si pemilik motor tersebut adalah Dia, Sinatra. Seseorang yang
berhasil membuatku jatuh cinta hanya karena wangi farfumnya. Dia ternyata baru
selesai ekskul basket. Dan walaupun sehabis olahraga seperti itu tapi, wangi
farfumnya masih ada.
“belum
pulang?”
“belum.
Masih mau nyari angkot.” jawabku sekenanya
“angkot
kan jam segini gak lewat sini, Ra.”
“masa
sih. Kok kamu tau? Juragan angkot ya?” jawabku. Haduh Rasya. Garing tau. Tapi
aku salah, justru dia tertawa. Dan tentu saja membuatku terperangah beberapa
saat.
“rumah
kamu emang dimana?”
“di jalan
juanda.”
“yaudah
yuk, aku anter. Lagian ini udah sore, taksi mana ada yang lewat sini kalo jam
segini.
Dan aku
pun bersedia diantar pulang olehnya. Pulang bersama denganya plus bisa
menghirup wangi farfumnya sepanjang perjalanan. Aku bersyukur Kak Ravi gak
jemput. It's my lucky day. Hoho
# # #
Sejak
saat itulah aku mulia akrab dengannya. Kami mulai bertegur sapa saat sedang
berpapasan dikelas. Dan tentu saja dengan wangi farfumnya yang selalu membuatku
betah berada didepan kelas, hanya kerena menunggunya untuk masuk kelas. Tidak
hanya bertegur sapa, hari demi hari kami mulai terlihat bersama. Dia sering
menungguku sampai dijemput oleh Kak Ravi. Dan aku juga terkadang sengaja
melihat dia latihan basket. Mungkin ini kedengaran aneh, tapi ya kalian benar aku
telah jatuh cinta pada laki-laki ini. Aku bahkan tidak ingin melewatkan satu
hari pun tanpa melihatnya. Satu hari tanpa melihat dan mencium farfumnya bisa
membuat hariku bad mood seharian.
Perlahan
aku mulai mengetahui kehidupannya dan aku pun tidak sungkan untuk berbagi
cerita dengannya. Entah mengapa kita memiliki selera musik, film dan buku yang
sama. Hal inilah yang selalu menjadi bahan obrolan yang tidak pernah berhenti
untuk kami bahas. Dan ini juga menjadi nilai lebih yang ada pada dirinya. Hubungan
yang hanya sebatas teman pun perlahan mulai berubah. Sedikit demi sedikit.
# # #
“Rasya.
sampai hari ini aku masih penasaran dengan alasan mengapa kamu memilih aku.”
“Kamu
yakin mau mengetahui alasannya, Nat?”
“kamu
hampir membuatku gila, sayang.”
“aku
jatuh cinta padamu bukan hanya karena kamu baik, pengertian atau pun bisa
melindungi aku, tapi alasan yang paling besar adalah karena...”
“apa?”
Dan
dengan perlahan aku menuturkan alasan tersebut.
“karena
wangi farfummu, Sinatra.”
“benarkah?”
“ya aku suka
sekali wangi farfummu. Lembut sekali.”
“terima
kasih. Sayang.”
Lama
sekali dia memandangi wajahku. Tatapan yang sangat dalam. Tatapan yang
membuatku deg-degan setengah mati.
“sekarang
giliranku. Apa yang membuatmu jatuh cinta juga padaku?”
Dia
kembali diam. Setelah beberapa saat dia menjawab.
“aku bisa
saja mengatakan bahwa kamu, cantik, manis, pengertian, baik hati atau yang
sebagainya. Tapi yang terpenting untukku karena aku ingin mencintaimu. Coba
bayangkan bila pengertian, baik, kekayaan atau yang lainya itu tiba-tiba hilang
dari dalam diri seseorang yang kita cintai? Pasti selalu terucap 'sudah tidak
ada kecocokan lagi'. Padahal bukan karena tidak cocok, melainkan karena rasa
cinta itu hilang perlahan dengan hilangnya hal-hal yang membuatmu jatuh cinta
pada seseorang tersebut.”
Aku pun
meresapi setiap kata yang Dia ucapkan padaku. Dan perlahan aku mulai mengerti
sekarang. Mencintai bukan karena siapa,mengapa,atau apa. Tapi mencinta itu
karena kalian memang ingin mencintainya.
“iya,
Nata. Aku akan mencintaimu, kerena aku memang ingin mencintaimu.
“terima
kasih sayang. Tapi wangi farfumku tidak akan berubah Rasya. Selamat menghirup
wangi farfumku, sayang.” kata Nata sambil memelukku, tepat saat tenggelamnya
matahari difuk barat.
Kami pun
saling memeluk harapan dan angan yang telah kami janjikan satu sama lain. Dan
menatap jauh ke depan, meninggalkan apa yang sudah terjadi sebelumnya.
Jauh-jauh kebelakang and try to loving each other, because we want to.
“maybe
its true I can live wihout you
maybe two
its better than one.”
T.H.E. E.N.D